
Bikin Kaget! Daging Olahan Masuk Daftar Makanan Perlu Di Batasi
Bikin Kaget! Daging Olahan Seperti Sosis, Ham, Bacon, Dan Kornet Perlu Mendapat Perhatian, Konsumsi Daging Olahan. Berkaitan Dengan Peningkatan Risiko Kanker Kolorektal. Karena Itu, Jumlah Konsumsinya Sebaiknya Dibatasi. Daging Olahan Mengalami Proses Pengasinan, Pengasapan, Fermentasi, Atau Pengawetan. Proses Tersebut Membuat Produk Lebih Awet Dan Memiliki Cita Rasa Khas.
Bikin Kaget! Risiko Tersebut Tidak Berarti Setiap Orang Yang Makan Sosis Akan Terkena Kanker. Faktor Genetik, Pola Hidup, Berat Badan, Aktivitas Fisik, Dan Kebiasaan Makan Juga Berpengaruh. Sementara Itu, Mengurangi Daging Olahan Bisa Menjadi Salah Satu Langkah Menjaga Kesehatan Usus. Pilih Makanan Tinggi Serat Dan Perbanyak Sayuran, Buah, Serta Biji-Bijian Utuh Dalam Menu Harian.
Namun, Konsumsi Berlebihan Dapat Menimbulkan Risiko Kesehatan. Pola Makan Rendah Serat, Kurang Aktivitas Fisik, Obesitas, Merokok, Dan Konsumsi Alkohol Juga Berhubungan Dengan Risiko Kanker Kolorektal. Kacang-Kacangan, Ikan, Telur, Produk Susu, Tahu, Dan Tempe Dapat Masuk Dalam Menu Seimbang.
Mengenal Daging Olahan Dan Jenis Makanan Yang Perlu Di Batasi
Mengenal Daging Olahan Dan Jenis Makanan Yang Perlu Di Batasi. Daging Olahan Merupakan Daging Yang Telah Mengalami Proses Pengasinan, Pengawetan, Fermentasi, Atau Pengasapan. WHO Memasukkan Sosis, Ham, Hot Dog, Kornet, Dan Daging Kaleng Dalam Kelompok Ini. Selain Itu, Beberapa Produk Daging Siap Santap Juga Menggunakan Proses Pengolahan Serupa.
Konsumen Perlu Memperhatikan Label Dan Komposisi Sebelum Membeli Produk. Kemudian, Tidak Semua Produk Daging Memiliki Risiko Yang Sama. Daging Segar Dan Daging Olahan Merupakan Dua Kelompok Yang Berbeda Dalam Penilaian Risiko Kanker. Karena Itu, Masyarakat Tidak Perlu Menghindari Semua Sumber Protein Hewani. Konsumsi Daging Bisa Tetap Menjadi Bagian Dari Pola Makan Seimbang Dengan Porsi Yang Sesuai.
Bikin Kaget! WHO Mengklasifikasikan Konsumsi Daging Olahan Sebagai Karsinogenik Bagi Manusia. Klasifikasi Ini Berdasarkan Bukti Yang Cukup Dari Penelitian Pada Manusia. Namun, Klasifikasi Tersebut Tidak Berarti Tingkat Bahayanya Sama Dengan Rokok. WHO Menjelaskan Bahwa Kategori IARC Menunjukkan Kekuatan Bukti Bahwa Suatu Paparan Dapat Menyebabkan Kanker.
Kategori Itu Tidak Menunjukkan Besarnya Risiko Secara Langsung. Penelitian Yang Ditinjau WHO Menemukan Hubungan Antara Jumlah Daging Olahan Dan Risiko Kanker Kolorektal. Analisis Tersebut Memperkirakan Risiko Meningkat Sekitar 18 Persen Untuk Setiap Konsumsi 50 Gram Daging Olahan Per Hari. Selanjutnya, Risiko Tidak Berdiri Sendiri.
Bikin Kaget! Daging Merah Juga Perlu Mendapat Perhatian
Bikin Kaget! Daging Merah Juga Perlu Mendapat Perhatian. Daging Merah Meliputi Daging Sapi, Kambing, Domba, Babi, Dan Jenis Daging Mamalia Lainnya. WHO Mengklasifikasikan Konsumsi Daging Merah Sebagai “Probably Carcinogenic To Humans”. Bikin Kaget! Daging Merah Tidak Memiliki Klasifikasi Yang Sama Dengan Daging Olahan. Bukti Mengenai Hubungannya Dengan Kanker Tidak Sekuat Bukti Pada Daging Olahan.
Meski Begitu, Konsumsi Berlebihan Tetap Perlu Dibatasi. World Cancer Research Fund Merekomendasikan Konsumsi Daging Merah Tidak Lebih Dari Sekitar Tiga Porsi Per Minggu. Jumlahnya Setara Sekitar 350 Hingga 500 Gram Dalam Kondisi Matang. Sementara Itu, WCRF Menyarankan Masyarakat Mengonsumsi Daging Olahan Dalam Jumlah Sangat Sedikit.
Bahkan, Organisasi Ini Menyarankan Sedikit Atau Tidak Sama Sekali Mengonsumsi Daging Olahan. Selain Mengurangi Daging Olahan, Masyarakat Bisa Memperbaiki Kualitas Menu Harian. Salah Satunya Dengan Meningkatkan Konsumsi Makanan Yang Mengandung Serat. Biji-Bijian Utuh, Sayuran, Buah, Kacang-Kacangan, Dan Polong-Polongan Menjadi Sumber Serat Yang Baik.
WCRF Menyebut Bukti Kuat Menunjukkan Serat Dan Biji-Bijian Utuh Berkaitan Dengan Penurunan Risiko Kanker Kolorektal. Kemudian, Serat Membantu Menambah Massa Feses Dan Mendukung Pergerakan Isi Saluran Pencernaan. Proses Ini Dapat Mengurangi Waktu Kontak Berbagai Zat Dengan Dinding Usus. Karena Itu, Mengganti Sebagian Daging Olahan Dengan Sumber Protein Lain Bisa Menjadi Pilihan.